Deklarasi Islam Tentang Perubahan Iklim Global

 

Deklarasi Islam Tentang Perubahan Iklim Global

(versi Terjemahan Bahasa Indonesia – dikutip dari sumber: Fachruddin Mangunjaya)

Pembukaan

1.1. Tuhan — yang kami sebut Allah – telah menciptakan alam semesta beserta keragaman, kekayaan dan kehidupan di dalamnya: Bintang-bintang, matahari, bulan, bumi beserta makhluk-makhluk hidup. Semua ini merupakan wujud kebesaran dan mahakasih sang Pencipta yang tak terbatas. Semua makhluk hidup mengabdi dan mengagungkan sang Maha Pencipta. Semua tunduk kepada kehendak Tuhan. Kita manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Tuhan segenap makhluk; untuk bekerja sebaik yang kita bisa bagi semua spesies, individu dan generasi-generasi ciptaan Tuhan.

1.2. Planet kita telah hadir selama empat milyar tahun dan perubahan iklim di dalamnya bukanlah hal yang baru. Iklim bumi telah melalui tahapan basah dan kering, dingin dan hangat, sebagai reaksi terhadap banyak faktor alam. Banyak dari perubahan-perubahan ini berlangsung secara bertahap, sehingga bentuk-bentuk dan komunitas-komunitas hidup bisa menyesuaikan diri. Pernah ada perubahan-perubahan iklim yang bersifat bencana, menimbulkan kepunahan banyak makhluk hidup. Tapi sejalan dengan waktu, kehidupan menyesuaikan diri dengan dampak-dampak ini; muncul sebagai kehidupan baru bersama kemunculan ekosistem yang seimbang seperti yang kita warisi hari ini. Perubahan iklim di masa lalu juga berperan penting dalam penyediaan minyak fosil yang kita nikmati manfaatnya hari ini. Ironisnya, penggunaan sumber energi yang tidak bijaksana dan berpandangan pendek menimbulkan kerusakan kehidupan di muka bumi.

1.3. Tahapan perubahan iklim sekarang berbeda dari perubahan iklim bertahap yang pernah terjadi di masa lalu – Zaman Cenozoic. Perubahan iklim sekarang adalah hasil perbuatan manusia. Kita telah menjadi kekuatan dominan di alam. Epos yang kita jalani sekarang menurut istilah geologi disebut Anthropocene, atau Zaman Manusia. Spesies kita, meski terpilih menjadi khalifah di muka bumi, telah menyalahgunakan peran itu dan menimbulkan kerusakan sehingga bisa mengakhiri kehidupan yang kita kenal sekarang. Tingkat perubahan iklim sekarang tidak bisa dipertahankan, dan bumi akan segera kehilangan keseimbangannya. Karena kita manusia terjalin kedalam alam, maka segala yang ada di dalamnya harus kita pelihara. Tetapi minyak fosil yang membantu kita mencapai kesejahteraan yang kita miliki sekarang adalah sebab utama perubahan iklim. Pencemaran berat dari penggunaan minyak fosil mengancam berbagai anugerah lain yang diberikan Tuhan kepada kita – seperti iklim yang berfungsi dengan baik, udara bersih, musim yang teratur dan kehidupan laut. Tapi kita telah menyalahgunakan anugerah ini. Apa pandangan anak-cucu kita terhadap kita yang mewariskan kepada mereka planet yang rusak? Bagaimana kita mempertanggungjawabkan ini kepada Tuhan?

1.4. Kita mencatat bahwa Millennium Ecosystem Assessment (UNEP 2015) yang didukung 1300 ilmuwan dari 95 negara, menemukan bahwa “manusia secara keseluruhan telah membuat perubahan besar pada ekosistem selama paruh akhir abad ke-20, dibanding zaman apa pun dalam sejarah…perubahan-perubahan ini telah meningkatkan kesejahteraan manusia, tapi dibarengi dengan penurunan mutu kehidupan yang terus menerus:

“Kegiatan manusia membuahkan ketegangan pada fungsi-fungsi alamiah bumi sehingga kemampuan ekosistem planet ini untuk menghidupi generasi mendatang tidak lagi bisa diabaikan.”

1.5. Hampir sepuluh tahun kemudian, kendati berbagai konferensi yang berusaha melanjutkan Protokol Kyoto, bumi secara keseluruhan makin memburuk. Sebuah studi yang dilakukan oleh the Intergovernmental Panel on Climate Change(IPCC), yang melibatkan perwakilan-perwakilan dari 100 negara pada bulan Maret 2014, menyampaikan lima sumber kekhawatiran sebagai berikut:

  • Ekosistem dan kebudayaan sudah terancam akibat perubahan iklim.
  • Perubahan iklim menimbulkan berbagai risiko dari peristiwa-peristiwa ekstrem, seperti gelombang panas, hujan besar mendadak, dan banjir pantai yang semakin meningkat.
  • Risiko-risiko itu tersebar secara tidak merata dan umumnya lebih besar menimpa masyarakat miskin dan tak beruntung di setiap negara, pada semua tingkatan pembangunan.
  • Dampak-dampak buruk itu akan menimpa keanekaragaman hayati, produk dan jasa yang dihasilkan dari ekosistem dan mempengaruhi perekonomian dunia.
  • Sistem bumi terancam perubahan yang mendadak dan tidak bisa dipulihkan

Kita terdorong untuk berkesimpulan bahwa ada kesalahan serius dalam cara kita menggunakan sumber daya alam–sumber kehidupan di bumi. Peninjauan ulang yang radikal diperlukan. Ummat manusia tidak dapat mengandalkan kemajuan yang lambat pada semua proses perundingan COP (Conference of Parties – Climate Change Negotiation) sejak Millennium Ecosystem Assessment terbit pada tahun 2005, atau ada kebuntuan negosiasi sekarang ini.

1.6. Dalam babakan waktu singkat sejak revolusi industri, kita telah mengkonsumsi minyak fosil sebanyak yang dihasilkan bumi selama 250 juta tahun – semua atas nama pembangunan ekonomi dan kemajuan ummat manusia. Kita memperhatikan dengan khawatir dampak gabungan dari konsumsi per kapita yang meningkat dan pertumbuhan penduduk. Dengan kekhawatiran yang sama, kita juga melihat perebutan cadangan minyak fosil antar perusahaan-perusahaan multi-nasional tengah berlangsung di bawah lapisan es yang mencair di daerah antartika. Kita mempercepat kehancuran kita sendiri melalui proses-proses ini.

1.7. Kita mencatat pernyataan para ilmuwan terkemuka bahwa pada saat ini kenaikan dua derajat suhu bumi yang dianggap ‘titik puncak’ menjadi ‘sangat tidak mungkin’ dihindari dengan menganggapnya sebagai keadaan yang biasa. Para ilmuwan terkemuka lain menganggap 1,5 derajat sentigred lebih mungkin menjadi titik puncak. Inilah titik yang dianggap sebagai ambang bencana perubahan iklim yang akan membawa jutaan manusia dan makhluk lain yang tak terhitung kepada kekeringan, kelaparan dan banjir. Bagian terberat dari proses ini akan terus ditanggung oleh masyarakat miskin, saat bumi mengalami peningkatan drastis penumpukan karbon di atmosfer sejak zaman revolusi industri.

1.8. Adalah pertanda bahaya bahwa meski peringatan-peringatan dan perkiraan-perkiraan yang merupakan kelanjutan Protokol Kyoto, yang seharusnya sudah berlaku sejak 2012, tertunda terutama karena sikap mementingkan diri sendiri negara-negara kaya dan kuat. Sangatlah penting bagi semua negara, terutama negara-negara maju, untuk meningkatkan upaya dan menerapkan pendekatan pro-aktif yang diperlukan untuk menghentikan, dan mudah-mudahan membalikkan, kerusakan yang tengah berlangsung.

Bagikan:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *