Pedoman BNPB Mengenai Bantuan Air Bersih, Sanitasi, dan Higiene Pada Keadaan Darurat Bencana

Sosialisasi BNPB Tentang Bantuan Air Bersih, Sanitasi, dan Higiene Pada Status Keadaan Darurat Bencana, 16-18 November 2015
Sosialisasi BNPB Tentang Bantuan Air Bersih, Sanitasi, dan Higiene Pada Status Keadaan Darurat Bencana, 16-18 November 2015

Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), status keadaan darurat bencana adalah status keadaan darurat yang dimulai sejak status siaga darurat, tanggap darurat, dan transisi darurat ke pemulihan. Dalam keadaan darurat bencana, kebutuhan akan air bersih, sanitasi, dan higiene selama ini masih belum ada standar minimal yang terukur. Oleh karena itu, perlu ada pedoman untuk dijadikan acuan bagi segenap pihak yang terlibat dalam proses penanggulangan bencana.

Masalah utama yang umumnya terjadi dalam keadaan darurat bencana diantaranya kelangkaan air bersih, rusaknya sumber air bersih, rusaknya sarana dan prasarana sanitasi, dll. Ketika terjadi status keadaan darurat bencana, maka perlu dilakukan analisis kaji cepat mengenai situasi yang terjadi untuk dapat menentukan kebutuhan.

Jika kebutuhan air bersih yang mendesak, maka yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Jumlah kebutuhan air bersih
  2. Sumber air baku
  3. Kualitas air baku
  4. Distribusi dan pemeliharaan

Standar minimum air bersih yang akan diberikan mengacu pada Permenkes 416/MENKES/PER/IX/1990 Tentang Standar Kualitas Air Bersih dan Air Minum. Standar minimum tersebut diantaranya secara fisik air tidak berbau, berwarna, dan berasa, serta tidak mengandung bakteri penyakit (diare, tipus, dll).

Indikator bantuan air bersih antara lain:

  1. Untuk 3 (tiga) hari pertama, bantuan sebanyak 7 liter/orang/hari. Setelah itu menjadu 15 liter/orang/hari
  2. Jarak terjauh hunian sementara ke tempat distribusi air adalah maksimal 500 m
  3. Tempat penyimpanan air ukuran 10-20 liter sebanyak 2 unit dapat diberikan ke setiap rumah tangga
  4. Lama antrian distribusi air bersih maksimal 15 menit

Jika dalam situasi bencana kekeringan, penyediaan sumber air alternatif dapat berupa: Sumur bor atau Embung atau kolam air. Adapun untuk pembangunan embung air, harus berada di sekitar lokasi pertanian yang memerlukan pasokan air dan ada air yang dapat ditampung berupa air hujan, mata air, ataupun aliran sungai/irigasi yang mempunyai volume yang cukup

Selain itu, jika ada kebutuhan sanitasi, maka yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Pembuangan tinja yang aman
    Jenis jamban dalam kondisi darurat yang bisa digunakan adalah:
    – Jamban galian parit
    – Jamban kolektif
    – Jamban menggunakan drum bekas
    – Jamban mobile
  2. Penyaluran limbah cair
  3. Pengelolaan limbah padat
  4. Pengendalian vektor

Jamban yang dibangun di lokasi terdampak bencana disarankan:

  1. Ada pemisahan untuk laki-laki dan perempuan
  2. Lokasi maksimal 50 meter dari tenda pengungsian dan minimal 30 meter dari sumber air
  3. Jarak minimal antara jamban terhadap lokasi sarana air bersih adalah 10 meter
  4. Konstruksi jamban harus kuat dan dilengkapi dengan tutup jamban
  5. Pembuatan jamban harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya
  6. Mempertimbangkan tinggi muka air tanah, musim, dan komposisi tanah
  7. Memperhatikan jumlah masyarakat terdampak dan penyebarannya

Untuk keperluan higiene, daftar barang yang direkomendasikan untuk kebersihan orang pribadi yang terkena bencana antara lain:

  1. 250 gram sabun mandi per orang per bulan
  2. 200 gram sabun cuci per orang per bulan
  3. Sabun cuci piring dan spons per keluarga
  4. Kebutuhan untuk wanita pada saat menstruasi, bisa berupa bahan yang pantas untuk kebersihan (misal kain katun yang dapat dicuci)

Selain itu barang untuk kebutuhan higiene lainnya yang dapat diberikan, dilihat dari keadaan sosial budaya sekitar, antara lain:

  1. 100 gram pasta gigi
  2. 1 buah sikat gigi per orang
  3. 250 ml shampoo
  4. 250 ml minyak untuk bayi
  5. 1 buah sisir
  6. Gunting kuku
  7. Handuk

*Pedoman ini disampaikan saat Sosialisasi BNPB Mengenai Bantuan Air Bersih, Sanitasi, dan Higiene Pada Keadaan Darurat Bencana di Tangerang, 16-18 November 2015

Bagikan:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *